TRIBUNTRENDS.COM - Kepergian Lula Lahfah meninggalkan luka mendalam bagi Reza Oktovian alias Reza Arap.
Sosok yang selama ini dikenal kuat, ekspresif, dan penuh energi itu kini harus menghadapi kenyataan paling pahit dalam hidupnya: kehilangan kekasih yang dicintainya untuk selama-lamanya.
Melalui unggahan di platform X, Reza Arap akhirnya buka suara terkait meninggalnya Lula Lahfah pada 23 Januari 2026.
Dalam ungkapan yang jujur dan tanpa topeng, Reza mengakui bahwa dirinya sedang berada di titik terendah.
Baca juga: Pesan Sabrina Chairunnisa untuk Netizen usai Kematian Lula Lahfah: Menghakimi Bukan Tugas Manusia
Reza Arap menyampaikan bahwa saat ini ia memilih menarik diri sejenak, memusatkan perhatian pada proses pemulihan dirinya sendiri.
Ia meminta ruang, waktu, dan pengertian dari publik serta para penggemarnya.
“Biarkan gua fokus sama diri gua sendiri, sampai nanti akan ada saatnya gua butuh kalian,” tulis Reza Arap, dikutip TribunTrends.com, Kamis (29/1/2026).
Dalam lanjutan unggahannya, Reza tak menutupi kondisi emosionalnya yang rapuh. Ia mengakui bahwa duka yang ia rasakan bukan sesuatu yang bisa disangkal.
“Bohong kalau gua bilang gua tidak lemah dan hancur,” tambah Reza.
Kalimat itu menjadi cerminan betapa kehilangan tersebut mengguncang dirinya, bahkan untuk sekadar berpura-pura kuat di hadapan publik.
Meski kebersamaan Reza Arap dan Lula Lahfah terbilang singkat, kenangan yang ditinggalkan begitu dalam.
Reza mengungkapkan bahwa ia menyimpan potongan memori berharga bersama Lula, termasuk mimpi dan rencana masa depan yang sempat mereka rajut bersama.
“Walaupun gua mengenal almarhumah sejak lama, tapi gua hanya mengambil sebagian kecil dari kenangan atau memori almarhumah selama hampir satu tahun ke belakang dan rencana-rencana kami berdua serta keluarga di masa depan,” tulis Reza lagi.
Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa kehilangan ini bukan sekadar perpisahan, melainkan runtuhnya harapan dan rencana hidup yang telah disusun bersama.
Baca juga: Polisi Ungkap Alasan Tetap Selidiki Kematian Lula Lahfah Walau Keluarga Menolak Autopsi, Formalitas?
Di tengah sorotan luas dan berbagai asumsi publik, Reza Arap meminta agar fokus dan empati diarahkan kepada keluarga serta sahabat-sahabat mendiang Lula Lahfah.
Ia berharap orang-orang tidak memproyeksikan perasaan mereka sendiri terhadap apa yang ia alami.
“Kesampingkan apa yang kalian proyeksikan tentang apa yang gua rasakan dan fokus ke keluarga dan sahabat-sahabat almarhumah,” tambah Reza.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa duka adalah pengalaman personal, dan tidak semua luka perlu diterjemahkan atau dinilai oleh orang lain.
Sebagai informasi, Lula Lahfah ditemukan meninggal dunia di apartemen Essence Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada 23 Januari 2026.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami penyebab kematian tersebut.
Polisi telah memeriksa sedikitnya 10 saksi, termasuk Reza Arap, guna mengungkap secara menyeluruh peristiwa yang terjadi.
Di tengah proses hukum yang masih berjalan, Reza Arap memilih berdiam, berduka, dan berusaha bertahan menjalani hari-hari tanpa sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Berbagai spekulasi bermunculan sejak kabar meninggalnya Lula mencuat, terutama setelah keluarga memutuskan menolak autopsi terhadap jenazah mendiang.
Namun, di tengah keputusan tersebut, kepolisian menegaskan satu hal: penyelidikan tidak berhenti.
Polda Metro Jaya memastikan proses pengungkapan fakta tetap berjalan demi menjawab rasa penasaran publik dan meredam kabar simpang siur yang berpotensi menyesatkan.
Baca juga: Isu Ngebalon Whip Pink, Polisi Buka Suara soal Dugaan Lula Lahfah Meninggal karena Overdosis
Jenazah Lula telah dimakamkan setelah pihak keluarga menolak dilakukan autopsi dengan alasan menghormati mendiang.
Meski demikian, kepolisian menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak serta-merta menggugurkan kewajiban aparat penegak hukum untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.
Kepergian Lula yang mendadak memunculkan berbagai pertanyaan publik, khususnya terkait penyebab kematian.
Di tengah derasnya asumsi yang beredar, polisi menilai perlu adanya kejelasan berbasis fakta.
Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya, Kompol Andaru Rahutomo, menegaskan bahwa penyelidikan tetap dilakukan untuk memastikan informasi yang berkembang tidak menyesatkan.
Menurutnya, langkah ini penting agar publik memperoleh gambaran yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Dengan tidak dilakukannya autopsi, penyidik menerapkan pendekatan Scientific Crime Investigation sebagai alternatif utama dalam pengumpulan data dan analisis.
Metode ini menitikberatkan pada penguatan alat bukti nonmedis serta pendalaman menyeluruh terhadap kondisi tempat kejadian perkara (TKP).
Polisi berupaya menggantikan keterbatasan autopsi dengan ketelitian maksimal pada bukti-bukti lain yang tersedia.
Baca juga: Jawaban Polisi Soal Isu Lula Lahfah Meninggal Akibat Overdosis, Petugas Amankan Obat-Obatan
Dalam proses berjalan, penyidik melakukan pencocokan antara keterangan saksi dengan bukti petunjuk yang ditemukan di lapangan.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi juga menjadi bagian penting dalam merangkai kronologi kejadian.
“Kami mencocokkan fakta di lapangan dengan keterangan saksi, temuan di TKP, serta CCTV.
Semua dikonfirmasi agar kronologinya jelas dan tidak menimbulkan asumsi,” kata Andaru.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada celah interpretasi yang keliru dalam memahami peristiwa tersebut.
***