TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Badan SAR Nasional (Basarnas) mengerahkan tim elite untuk mencari tiga penambang yang diduga masih terjebak sejak tujuh hari lalu di bekas galian tambang emas Pongkor milik PT Antam, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Tiga penambang tersebut berinisial AK, AJ, dan AD, seluruhnya warga Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Hingga kini mereka belum berhasil dievakuasi.
Aktivitas penambangan yang dilakukan diketahui ilegal, berada di luar kawasan operasional resmi PT Antam.
Pencarian dilakukan hari ini, Selasa (20/1/2026) dengan melibatkan Basarnas Special Group (BSG).
Basarnas menerima laporan tiga penambang belum keluar pada Minggu (18/1/2026) pukul 16.00 WIB.
Keterangan itu berasal dari penambang lain yang berhasil keluar.
Saat kejadian, lubang tambang sempat mengeluarkan kepulan asap pekat.
Kepala Kantor SAR Jakarta sekaligus SAR Mission Coordinator, Desiana Kartika Bahari, menyebut area tambang Pongkor sudah ditutup lebih dari 10 tahun.
“Diketahui dari hasil asesmen bahwa area tersebut tidak layak, kondisinya labil. Selain celah sempit, terdapat gas beracun yang bisa membahayakan tim,” ujar Desiana.
Basarnas bersama Emergency Response Team PT Antam melakukan asesmen sejak Minggu hingga Senin malam.
Hasilnya, diputuskan menurunkan unit elite BSG dengan kemampuan khusus Underwater Rescue, Urban SAR, dan Aviation Rescue.
“Kami lakukan dengan kehati-hatian untuk evakuasi ketiga korban yang masih diduga di dalam tambang,” kata Desiana.
Baca juga: Guru SD di Serpong Tangsel Ditangkap Polisi Terkait Dugaan Pelecehan Anak, 9 Orangtua Melapor
Selain tiga orang yang masih terjebak, lima penambang dilaporkan tewas akibat kehabisan napas. Kapolsek Nanggung, AKP Ucup Suprianta, menyebut kelima korban diduga sebagai penambang emas ilegal.
“Total ada lima orang (korban meninggal dunia),” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Rinciannya, tiga korban warga Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, berhasil dievakuasi oleh tim Antam sejak Minggu hingga Senin.
Dua korban lainnya warga Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, dievakuasi secara mandiri oleh warga.
Nasib malang menimpa Isep Septiana (27), warga Desa Urug, Sukajaya, Bogor. Ia tewas setelah terjebak asap beracun di lubang tambang Pongkor.
Isep adalah tulang punggung keluarga karena sang ayah sakit.
Sebelum jadi gurandil, ia berjualan soto, namun sepi pembeli. Demi penghasilan lebih besar, ia nekat masuk ke lubang tambang.
“Dua hari, dua malam biasanya mikul. Cuma sepi mikulnya jadi dia ikut ngambil (masuk ke lubang),” kata sepupunya, Siti (38), dikutip TribunnewsBogor.com.
Penghasilan dari pekerjaan berisiko itu dikumpulkan untuk menikahi kekasihnya setelah Lebaran.
"Baru mau (nikah) abis lebaran dia. Untuk tanggalnya belum, rencana doang abis lebaran katanya mau nikah udah bilang abis lebaran," ujar Siti lirih.
Namun rencana itu terhenti, Isep lebih dulu dipanggil Sang Kuasa.
Tragedi Pongkor jadi peringatan keras bahaya tambang ilegal. Di tengah operasi berisiko, harapan tipis masih menyala: tiga nyawa menunggu diselamatkan. Regulasi dan pengawasan ketat mutlak diperlukan agar tragedi serupa tak terulang.