BANJARMASINPOST.CO.ID - Tebas tubuh ular piton panjang 8 meter pakai parang dengan membabi buta, ayah terpicu teriakan histeris.
Rupanya, anaknya dililit dan digigit ular piton tersebut. Kejadian ini berlangsung di Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dia mentebas ular piton hingga tewas setelah melilit dan menggigit anak perempuan Clara Cahya Ningrum (7) pada Kamis (15/1/2026) sekira pukul 01.00 Wita.
Melansir Tribun Sultra, Eka Rahayu, anggota keluarga korban, mengatakan peristiwa bermula saat Clara tengah tertidur lelap seorang diri.
Tanpa disadari, seekor ular piton (sanca batik) masuk ke dalam kamar dan langsung menggigit kaki korban.
Terkejut dan kesakitan, Clara lantas berteriak histeris hingga membangunkan sang ayah.
Baca juga: Heboh Ambulans Desa Diminta Dihentikan, Polsek Tambangulang Tanahlaut Pastikan Hanya Kesalahpahaman
"Mendengar jeritan sang anak, ayah korban langsung menuju kamar dan mendapati pemandangan mengerikan. Ular piton tersebut sudah melilit tubuh Clara dan kembali menggigit bagian pahanya," jelas Eka.
Melihat nyawa anaknya terancam, ayah korban dengan sigap mengambil sebilah parang.
Dalam situasi genting tersebut, ia menebas bagian tubuh dan ekor ular secara membabi buta.
Tebasan yang mengenai titik vital ular tersebut akhirnya membuat lilitan maut perlahan terlepas.
Setelah berhasil dievakuasi, kondisi Clara sempat tidak sadarkan diri.
Sang ayah dengan cepat menyiram tubuh korban menggunakan air hingga Clara kembali bernapas dan tersadar.
“Alhamdulillah, bapaknya cepat bertindak. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tidak tertolong,” ujar Eka.
Berdasarkan dokumentasi yang diperoleh, ular yang menyerang Clara adalah jenis sanca batik (malayopython reticulatus).
Dalam foto pasca-kejadian, terlihat predator tersebut tergeletak mati di atas lantai semen dalam kondisi yang mengenaskan.
Ular tersebut memiliki diameter tubuh yang sangat tebal dengan panjang diperkirakan mencapai 7 hingga 8 meter.
Tubuh ular tampak hancur akibat beberapa luka tebasan senjata tajam yang sangat dalam, mengakibatkan noda darah berceceran di lantai semen di sekitar bangkai ular.
Usai kejadian, Clara langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis intensif.
Akibat serangan predator tersebut, korban mengalami luka gigitan dalam serta memar serius di bagian kaki dan paha akibat lilitan yang kuat.
Jarak Kecamatan Oheo dengan Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara sekira 136 kilometer (km).
Estimasi waktu tempuh perjalanan sekira 2 jam 48 menit berkendara motor atau mobil.
Kasus ular piton masuk ke rumah warga sudah menjadi pemandangan yang biasa manakala musim penghujan tiba.
Kendati demikian, keberadaan ular piton tetap harus diwaspadai. Meski tidak berbisa, ular piton membahayakan dan mematikan manusia.
Koordinator Jaga Satwa Indonesia (JSI) yang berkantor pusat di Kota Madiun, Yonny Purwandana menyatakan hewan melata yang memiliki nama latin Malayopython Reticulatus dapat membunuh manusia dengan lilitannya.
“Ular piton itu tidak berbisa tetapi berbahaya dan mematikan. Membahayakannya dari cara ular piton melilit,” kata Yonny, Selasa (29/4/2025).
Menurut Yonny, ular piton termasuk ular besar tetapi mematikan.
Biasanya ular piton dapat mematikan dengan cara melilit leher manusia.
“Ular piton itu kalau sudah membelit leher maka tidak sampai 5 menit orang sudah mati. Karena belitan ular di leher menghentikan pasokan oksigen ke otak manusia sehingga membuat orang meninggal,” jelas Yonny.
Habitat ular yang memiliki nama panggilan seperti sanca dan sowo dapat ditemukan pinggir sungai, tempat lembab hingga semak-semak.
Namun kalau misalkan ular piton dapat masuk rumah lantaran sebelum dibangun biasanya awal mulanya dulu hutan atau persawahan.
Dengan demikian, kasus ular masuk rumah bukan menjadi hal yang mengagetkan lagi.
“Kalau sampai masuk rumah berarti sebelum dibangun rumah, dulunya sawah atau bekas hutan,” jelas Yonny.
Menurut Yonny, ular piton dapat berkembang paling panjang rata-rata 5 meter pada umur empat hingga lima tahun.
Besarnya ular tergantung sumber makanannya. Kalau sumber makanannya terjamin maka ularnya cepat besar.
Ia mengatakan pernah ditemukan ular piton di pulau Kalimantan dengan panjang 9 meter.
Ular itu dapat panjang hingga 9 meter karena hidup di area yang luas.
“Seperti di Kalimantan hutan luas sehingga ular dapat gerak leluasa. Kalau di sini hanya 4 meter karena ruang geraknya sempit yang banyak hidup di gorong-gorong,” kata Yonny.
Ular piton yang dilindungi di Indonesia terdapat empat jenis. Tiga jenis hanya ditemukan di pulau Papua dan satu jenis di Ponorogo.
Pelaporan ular piton masuk rumah atau kandang biasanya terjadi saat musim penghujan.
Bahkan dari 300-an kasus yang ditangani JSI paling dominan ditangani adalah ular piton.
“Paling banyak ditemukan pas musim hujan. Karena tempat persembunyian tergenang air makanya ular piton pindah,” kata Yonny.
Tak hanya itu, saat musim penghujan, ular piton mengalami masa kawin dengan menghasilkan 30 sampai 50 butir.
“Setahun dapat produksi minimal satu kali. Biasanya musim penghujan musim kawin dan menetas,” ungkap Yonny.
Ular piton biasa menyerang manusia karena terprovokasi.
Terlebih ular piton memiliki sensor gerak.
Untuk itu bila diganggu dengan gerakan atau sentuhan maka otomatis ular piton akan menyerang obyek di depannya.
“Kalau dibiarkan saat lewat, ular piton tidak akan menggigit. Kalau kita diam dan tenang tidak akan tergigit karena ular piton menggunakan sensor gerak,” tutur Yonny.
Menurutnya, ular piton akan memakan ternak milik warga karena lapar.
Apalagi kebanyakan warga membuat kandang ternak rata-rata di pinggir sungai dan sawah dengan alasan lebih memudahkan akses air dan jauh dari bau.
Padahal tepian sungai itu kebanyakan menjadi habitatnya ular dan biawak.
Sejatinya Ular piton juga bisa membantu petani memakan tikus.
Kalau di sawah lapar, ular akan mencari lubang tikus.
Bisa menemukan sepuluh anakan tikus maka akan dimakan semuanya.
“Kalau 10 anak tikus tidak ada yang makan maka akan berkembang menjadi ratusan tikus. Hanya saja banyak petani yang belum bisa membedakan mana ular berbisa dan mana ular biasa yang menguntungkan,” kata Yonny.
Secara teori, ular piton dapat memakan hewan yang besarnya 10 kali lipat dari besar kepalanya.
Makanya bila ular piton sudah besar dapat memakan kambing karena mulutnya bisa membesar hingga 10 kali lipat.
Bila ketemu ular piton di area yang luas, langkah agar tidak diserang disarankan agar mengambil posisi diam.
Apalagi ular piton memiliki tipe bukan hewan pengejar.
“Kalau ketemu piton diam saja. Santai karena tidak ular itu bukan tipe pengejar. Kalau sengaja mengganggu dengan menendang atau mencolek pakai kayu maka ular itu akan menyerang. Kalau kita diam, maka akan lewat,” ujar Yonny.
Namun bila ingin menangkap ular piton bisa dilakukan tetapi harus tahu tekniknya.
Salah satu caranya dipegang kepalanya dulu maka sudah aman.
Setelah ditangkap kepalanya, ada teknik supaya tidak dibelit maka dipegang kepala dan ekornya.
“Setelah terbentuk huruf U ditahan pakai kaki kemudian meminta bantuan orang untuk ambil karun,” kata Yonny.
Yonny menyarankan ular piton yang dapat ditangkap sendiri memiliki ukuran paling panjang satu setengah meter.
Kalau di atas 2 meter maka wajib minimal dua orang menangkapnya.
Menurut Yonny, gigatan ular piton dapat membawa penyakit.
Pasalnya ular piton acapkali memakan bangkai yang membawa bakteri.
Dengan demikian saat menggigit manusia bakteri yang berada di gigi ular masuk ke kulit manusia sehingga menimbulkan bengkak bernanah.
“Penyakitnya seperti bakteri karena ular makan bangkai. Sehingga di giginya menyisakan bakteri. Nanti kalau tergigit walau tidak berbisa dapat menimbulkan bengkak hingga mengeluarkan cairan nanah,” jelas Yonny.
(Banjarmasinpost.co.id/TribunLampung.co.id)