Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Tradisi perayaan Natal di Kota Ambon yang seharusnya sarat akan nilai spiritual dan edukasi kini tengah menuai kontroversi hebat. 

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon memberikan sorotan tajam terhadap aksi salah satu grup Santa Claus yang dinilai telah melakukan pelecehan terhadap tradisi dan nilai-nilai kesopanan.

Keresahan ini dipicu oleh viralnya unggahan di media sosial yang menampilkan sosok pria bernama Gilberth Einstain Gloriano Purmiasa alias Gilcans. 

Baca juga: Mahasiswa UKIM Kecam Aksi Pria Bergaun Pengantin dan Kaos Tak Senonoh dalam Rombongan Santa di Ambo

Baca juga: Pemkab SBT Percepat Penanganan Stunting Lewat Program Orang Tua Asuh

Dalam parade tersebut, Gilcans tampil mengenakan gaun pengantin putih lengkap dengan riasan wajah perempuan.

Ia berdampingan dengan kru yang mengenakan kaos putih bertuliskan kata-kata tak senonoh yang masuk dalam kategori pelecehan verbal.

Menanggapi hal tersebut, Ketua GMKI Cabang Ambon, Apriansa Atapary menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bentuk salah kaprah dalam memaknai sukacita Natal. 

Sejarah Santa Claus yang berakar dari kedermawanan Santo Nikolas pada abad ke-4 kini justru ditarik ke dalam ranah lelucon yang dangkal dan tidak mendidik.

"Sangat miris ketika Santa Claus hanya dipandang sebagai ruang lelucon dengan menghadirkan kelompok orang dengan kategori kelamin ganda serta tulisan-tulisan di kaos yang mengandung unsur pelecehan. Belum lagi penggunaan figur iblis untuk menakut-nakuti anak secara berlebihan," kata Atapary kepasa TribunAmbon.com, Senin (22/12/2025).

Lanjutnya menjelaskan, tradisi yang telah mendarah daging di Maluku, di mana anak-anak menantikan kedatangan Santa sebagai pembawa pesan moral.

Kini dianggap telah mengalami pergeseran makna yang destruktif akibat ulah komunitas tertentu.

GMKI Ambon menyayangkan tindakan komunitas tersebut yang secara tidak sadar telah melecehkan tradisi sekaligus identitas gender. 

Aksi ini dinilai sebagai bentuk 'anakronisme budaya' yang dapat menghilangkan nilai-nilai luhur hari gerejawi jika dibiarkan tanpa teguran keras.

"Sebagai gerakan Kristen, kami sangat menyayangkan hal ini. Ciri-ciri tidak mendidik seperti ini harus menjadi refleksi akhir tahun bagi umat Kristen di Ambon pada khususnya, agar pemaknaan akan hari raya gerejawi tidak hilang nilainya," tegasnya.

Penampilan Gilcans dan krunya dianggap tidak relevan dengan sosok Santa Claus yang seharusnya menjadi teladan bagi generasi muda.

Publik menilai penggunaan diksi negatif pada atribut kaos yang dikenakan kru parade sebagai penghinaan terhadap budaya religi dan standar kesopanan di Maluku.

Fenomena ini menjadi peringatan bagi seluruh kelompok penyelenggara tradisi Natal agar lebih berhati-hati dalam berekspresi. 

Kebebasan dalam merayakan tradisi tetap harus berpijak pada etika komunikatif dan penghormatan terhadap memori kolektif masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai sakral. (*)

Baca Lebih Lanjut
Seruan Pesan Damai dari SLB Pelita Kasih Ambon, Mahasiswa Evav: Jaga Nadi Larvul Ngabal
Viral Pengantin Pria Ngaku Terpaksa Menikahi Mempelai Wanita Gegara Faktor Ekonomi: Saya Tidak Cinta
Kesal Lihat Calon Suaminya Lempar Karangan Bunga Sembarangan, Pengantin Wanita Batalkan Pernikahan
Calon Suami Ditangkap karena Mencuri, Wanita ini Akhirnya Menikahi Kakak Laki-laki Pengantin Pria
Ketahuan Sudah Punya Istri, Pengantin Pria Dipukuli Keluarga Mempelai Wanita di Pernikahan
Sebut Dirinya 'Tak Pantas', Ari Lasso Tulis Pesan Perpisahan untuk Dearly Djoshua
Ulfa Lutfia Hidayati
Kandas, Ari Lasso Akui Tak Layak untuk Dearly Djoshua: I am Nothing 
Pengantin Wanita Ogah Pulang ke Rumah karena Uang Mahar Kurang, Mempelai Pria Akhiri Hidup
Duh! Sejoli Kepergok Berbuat Tidak Senonoh di Teras Cihampelas
Detik
Detik-detik Pak Guru Digerebek dalam Toilet Masjid Bersama Pria Muda