TRIBUNJATENG.COM, WONOGIRI - Mino (39), ayah santri korban tewas akibat dugaan bullying di Ponpes Santri Manjung, Wonogiri, menceritakan kondisi anaknya sebelum meninggal dunia.
Diketahui, putranya yang berinisial MMA (12) meninggal dunia pada Senin (15/12) lalu, usai mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia diduga meninggal karena dipukuli sejumlah santri lain.
Mino mengatakan, anaknya memiliki keinginan untuk sekolah di ponpes. Putranya baru 6 bulan menempuh pendidikan di Ponpes Santri Manjung.
"Kalau ditaruh di situ kan dekat sama mbah. Kalau saya nengok ke sana sekalian nengok embah. Tadinya mikirnya begitu, tapi setelah kejadian begini mau bilang apa," ujarnya saat ditemui, Jumat (19/12).
Kekecewaan Mino atas kondisi anaknya dimulai saat ia menjenguk pada Minggu (14/12) siang. Kala itu, Mino berniat untuk memberikan uang saku study tour kepada MMA.
Ketika motor yang ia kendarai baru saja diparkir di area pesantren, Mino langsung mendapatkan kabar buruk. MMA dikabarkan sakit dan sedang tergeletak di kamarnya.
Ia pun langsung bergegas menengok kondisi putranya. "Saya langsung menuju kamar. Setelah sampai kamar, anak saya sudah tengkurap," tuturnya.
Korban bahkan seakan tak mengenali ayahnya yang datang berkunjung. Tangan Mino yang menyentuh tubuh korban ditepis. Tak lama, Mino pun membawa MMA ke Puskesmas terdekat.
Namun, korban langsung dirujuk ke Rumah Sakit Umum Atsrini, Wonogiri. Selama perawatan, MMA tak sadarkan diri.
"Penanganan di rumah sakit, anak saya sudah gak sadar. Di ICU. Anak saya tidak pernah sadar. Dirawat dari Minggu sampai Senin (15/12)," bebernya.
Mino menuturkan, dokter yang menangani korban saat itu memberikan keterangan bahwa MMA meninggal bukan karena sakit, sebab ada bekas memar di bagian dada dan lengan kanan. "Setelah dimandikan, ditemukan lebam di kaki," jelasnya.
Mino pun hanya bisa menyesali keputusannya. Ia juga kecewa dengan pengurus ponpes. "Sama sekali jenguk pun enggak. Tidak ada. Kalau bela sungkawa tetap, tapi saat sudah dimandikan dan dimakamkan," tukasnya.
Serahkan kepolisian
Pemilik Ponpes Santri Manjung, Eko Julianto, menyerahkan sepenuhnya kasus dugaan bullying berujung tewasnya seorang santri itu kepada pihak kepolisian.
Ia pun mengaku kaget dengan peristiwa yang terjadi. "Kami pasrahkan ke kepolisian. Semua kalut atas peristiwa ini. Biar Polres yang mengurusi semuanya," katanya, Kamis (18/12).
Eko yang juga merupakan anggota Polres Wonogiri berpangkat Bripka menuturkan, dirinya sempat bertemu korban pada Sabtu (13/12) saat kegiatan mengaji.
Saat itu, kondisi korban disebut sedang kurang fit. "Saya tanya kondisinya, katanya habis minum obat. Waktu itu saya tidak tahu ada lebam-lebam,” ujarnya.
Keesokan harinya, korban izin sakit dan kemudian dibawa ke rumah sakit. Pada Senin (15/12), Eko mendapat kabar MMA dirawat secara intensif sebelum akhirnya meninggal dunia.
“Senin malam saya menyusul ke rumah duka. Paginya dari pondok juga takziah,” ucapnya. Eko menyebut, para santri di ponpes itu juga telah menggelar doa bersama usai salat Isya untuk almarhum.
Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPKB P3A) Wonogiri, Suhartono mengungkapkan, ada dugaan yang mengarah pada aksi perundungan di balik kematian korban.
"Kami mendapatkan aduan dari masyarakat terkait hal itu. Ada warga yang curiga santri meninggal dengan adanya luka lebam. Memang betul mengarah ke perundungan," ucapnya, kepada awak media, Kamis (18/12).
Ia berujar, Dinas PPKB P3A juga telah menerjunkan tim untuk melakukan pengecekan. Korban diduga dibuli pada Sabtu (13/12), dengan informasi sementara menyebutkan bahwa pelaku juga merupakan anak-anak.
"Infonya korban dipukul. Sebelumnya juga sudah ada perundungan yang dilakukan. Kalau pelaku perundungan lebih dari satu orang, potensi perundungannya (yang dialami korban-Red) lebih berat," terangnya.
Suhartono mengungkapkan, pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut dan berkoordinasi dengan kepolisian. Polisi juga disebut telah mengamankan sejumlah santri yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.
“Kalau dari kami, jangan sampai kejadian serupa terulang. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban maupun pelaku. Ini korban dan pelakunya sama-sama anak-anak,” tukasnya.
Ia pun mengimbau agar lingkungan pondok pesantren, sekolah, serta masyarakat umum lebih peka terhadap indikasi bullying atau perundungan.
“Kalau sampai meninggal dunia, kemungkinan kejadian itu tidak hanya sekali. Ini sangat kami sayangkan, dan semoga tidak terulang,” tandasnya. (Kompas.com/Romensy Augustino)