TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Warung HIK Solo merupakan salah satu ikon kuliner tradisional Kota Solo, Jawa Tengah, yang hingga kini tetap hidup dan digemari lintas generasi.
Identik dengan suasana sederhana, harga terjangkau, serta nuansa akrab, warung HIK tidak sekadar menjadi tempat makan, tetapi juga ruang berkumpul dan berinteraksi sosial bagi masyarakat.
Keberadaannya yang melekat kuat dalam kehidupan warga Solo membuat warung HIK resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2021.
Baca juga: Asal-usul Pasar Gading Solo : Saksi Bisu Kekejaman Penjajah, Kini jadi Spot Belanja dan Sarapan
HIK konon katanya merupakan singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung.
Warung ini umumnya berbentuk gerobak sederhana yang mulai beroperasi sejak sore hingga malam hari, bahkan ada yang buka sampai dini hari.
Namun, sebagian pedagang HIK juga berjualan dari pagi hingga sore hari.
Menu yang disajikan cenderung sederhana dengan porsi kecil, seperti nasi kucing, aneka gorengan, sate-satean, serta sundukan.
Baca juga: Sejarah Sego Gablok, Kuliner Legendaris Pasar Tawangmangu Karanganyar : Dulu Santapan Para Kuli
Minuman hangat khas wedangan, seperti wedang jahe, teh panas, kopi, hingga susu segar Boyolali, menjadi pelengkap yang tak terpisahkan.
Kesederhanaan menu inilah yang justru menjadi daya tarik utama HIK, menjadikannya tempat nongkrong favorit pelajar, mahasiswa, pekerja malam, hingga masyarakat umum.
Sejarah warung HIK di Kota Surakarta dapat ditelusuri hingga awal abad ke-20, tepatnya pada masa kolonial Hindia Belanda.
Pada tahun 1902, Kota Solo mulai mengalami perubahan signifikan setelah dialiri listrik.
Malam hari menjadi lebih terang dan aktivitas kota semakin hidup.
Kondisi tersebut memicu berkembangnya berbagai hiburan malam, seperti pertunjukan layar tancap di alun-alun, bioskop di kawasan Taman Kebonrojo dan Sriwedari, serta meningkatnya arus urbanisasi dari daerah sekitar.
Baca juga: Sejarah Sagon, Jajanan Populer di Tawangmangu Karanganyar, Dulu Hanya Dijual di Hari-hari Tertentu
Fenomena ini membuka peluang ekonomi baru, terutama bagi masyarakat kecil dari wilayah pinggiran seperti Klaten.
Para perantau tersebut datang ke Solo dan mulai menjajakan makanan ringan pada malam hari untuk penonton hiburan.
Pada masa awal, mereka berjualan dengan cara dipikul atau dijinjing, bukan menggunakan gerobak seperti sekarang.
Para pedagang ini biasanya berhenti di lokasi-lokasi ramai seperti Taman Sriwedari dan Pasar Pon.
Aktivitas inilah yang kemudian dianggap sebagai embrio lahirnya warung HIK.
Salah satu tokoh penting dalam perkembangan awal HIK adalah Mbah Karso Dikromo, seorang perantau asal Klaten yang mulai berdagang di Solo pada dekade 1930-an.
Awalnya, ia menjual terikan, makanan berkuah kental khas Jawa Tengah yang disajikan dengan lauk tempe atau daging.
Seiring waktu, Mbah Karso memodifikasi pikulannya dan mulai menjual aneka minuman.
Popularitasnya pun meningkat, hingga menu yang ditawarkan semakin beragam, mencakup nasi kucing, sate jeroan, gorengan, dan wedangan.
Baca juga: Sejarah Warung Madura yang Kini Menjamur di Solo Raya, Konon Diperkenalkan Warga Sumenep
Menu-menu inilah yang kemudian menjadi identitas khas warung HIK hingga sekarang.
Asal-usul istilah “HIK” sendiri memiliki berbagai versi.
Ada yang menyebut istilah tersebut berasal dari teriakan khas pedagang saat berkeliling, seperti “hik… iyeek” atau bunyi alat jualan “ting… ting… hik”.
Namun, versi yang paling populer menyebut HIK sebagai singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung.
Lebih dari sekadar tempat makan, warung HIK berfungsi sebagai ruang sosial yang penting bagi masyarakat Solo.
Di sinilah orang-orang berbincang santai, berdiskusi, bertukar cerita, bahkan menjalin relasi.
Konsep duduk berdekatan, suasana terbuka, dan tanpa sekat menciptakan keakraban yang khas.
Warung HIK juga dikenal dengan sebutan wedhangan oleh masyarakat Solo, merujuk pada dominasi minuman hangat yang disajikan.
Nuansa ini membuat HIK terasa hangat secara harfiah maupun sosial.
Baca juga: Kenapa Keraton Solo Didominasi Warna Biru Muda? Ternyata Ini Sejarah dan Filosofinya
Meski sering disamakan, HIK dan angkringan memiliki perbedaan utama pada asal-usul dan penyebutan.
HIK berasal dari Solo dan sebutannya lazim digunakan di wilayah Surakarta dan sekitarnya.
Sementara itu, istilah angkringan lebih identik dengan Yogyakarta.
Berikut perbedaannya:
Meski demikian, secara konsep keduanya nyaris sama.
Baik HIK maupun angkringan sama-sama menawarkan gorengan, sundukan, sate-satean, dan camilan tusuk yang bisa dihangatkan kembali di atas bara arang.
Penetapan warung HIK sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2021 menjadi pengakuan resmi atas nilai budaya, sejarah, dan sosial yang terkandung di dalamnya.
HIK bukan sekadar kuliner, melainkan representasi gaya hidup masyarakat Solo yang sederhana, egaliter, dan penuh kebersamaan.
Di tengah gempuran kuliner modern, warung HIK tetap bertahan sebagai simbol kehangatan malam Kota Solo, tempat di mana siapa pun bisa duduk sejajar, menikmati hidangan sederhana, dan berbagi cerita tanpa batas.
(*)