TRIBUN-TIMUR.COM, JENEPONTO - Sosok Aiptu Abdul Rasyad Kanit Resmob Polres Jeneponto.
Aiptu Abdul Rasyad salah satu polisi ditakuti penjahat di Jeneponto.
Apalagi ia memiliki wajah sangar dan dikenal pemburu pelaku kriminal.
Aiptu Abdul Rasyad sudah 11 tahun menjabat Kanit Resmob Jeneponto.
Bagi sebagian pelaku kriminal, nama Rasyad menjadi momok menakutkan.
Aiptu Abdul Rasyad sering dijumpai di Posko Tim Pegasus Resmob Polres Jeneponto, JlPahlawan, Kecamatan Binamu, Rabu (17/12/2025).
Ia sudah menembak 102 orang penjahat.
Baca juga: Rahman Nara Bernyanyi Usai Dipecat dari PDAM Jeneponto, Dugaan Pencurian dan Penggelapan Diungkap
"Saya sudah tembak 102 orang bersalah. Ada orang dari luar negeri dan dari luar provinsi," ujar Aiptu Abdul Rasyad yang mengenakan kaos oblong hitam.
Saat bersantai, Rasyad seringkali ditemani secangkir kopi, sebatang rokok di tangan kanannya.
Angka 102 bukanlah kebanggan bagi Abdul Rasyad, melainkan catatan panjang perjalanan tugas penuh risiko.
Dalah satu paling membekas adalah pengungkapan kasus curanmor pada 2019.
Pelaku saat itu adalah pria berusia 27 tahun bernama Salam (almarhum) dengan modus unik.
"Dia itu setiap hari Jumat mencuri motor, TKPnya sampai 37 lokasi se Jeneponto, selain motor Jupiter dia tidak mau ambil (curi)," kenang Rasyad.
Ia menceritakan kronologi detik-detik penangkapan Salam.
Saat hendak digerebek di rumah sepupunya di Kecamatan Rumbia, Jeneponto, Kamis (3/10/2019) malam, situasi mendadak tegang.
"Kami ketuk pintu, tapi kata sepupunya Salam tidak ada, tapi tiba-tiba Salam keluar dari kamar bawa parang panjang, kami mundur," ujar Rasyad.
Saat itu, ia berupaya persuasif agar Salam menyerahkan diri, namun tak berhasil.
Situasi makin sulit ketika Salam menyandera istrinya, menempelkan parang ke leher korban untuk mengelabui polisi.
"Dia pakai (jadikan tameng) istrinya untuk kabur. Waktu turun tangga, istrinya dilepas lalu dia lompat dan lari, kami kejar," kata Rasyad.
Setelah melepas tembakan peringatan namun tak diindahkan Salam, petugas akhirnya mengambil tindakan tegas.
"Kami tembakkan empat peluru di betis, dua di paha dan satu di dada karena berupaya melukai kami," ucapnya.
Rasyad menyampaikan, Salam adalah Residivis yang sudah berulangkali ia tangkap dan dipenjara.
Meski dikenal tegas, Rasyad menegaskan dirinya hanyalah manusia biasa.
"Motto saya bukan saya yang hebat, tapi Allah, kita tidak akan berhasil kalau bukan kehendak-Nya," tuturnya.
Ia pun menitipkan pesan kepada masyarakat yang syarat makna.
"Bersifatlah seperti tanah, apa yang kau tanam, itu yang akan tumbuh." tambahnya
Rasyad melanjutkan, ada prinsip yang selalu ia pegang teguh bersama Timnya.
"Tena Sinting, tidak tebang pilih, semuanya sama," tegasnya.
Di akhir perbincangan, satu kalimat menutup cerita panjangnya sebagai aparat lapangan.
"Saya tidak pernah takut sama orang yang salah, saya cuma takut sama Allah dan orang tua." pungkasnya.
Sekedar diketahui, selain berkeliling untuk tugas kepolisian, Rasyad juga memiliki hobi unik memelihara dan berdagang kuda.
Pria berusia 48 tahun ini memiliki sejumlah kuda pacu seperti Drogo Nagari dan Putra Pegasus yang kerap menyabet juara dalam Kejurda dan Kejurnas.
Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com, Muh Agung Putra Pratama