GridHEALTH.id -Seseorang bisa tampak sehat dan bugar saat berlari, tersenyum di garis start,namuntiba-tiba kolaps beberapa kilometer kemudian.

Fenomena ini membuat banyak orang penasaran: bagaimana bisa aktivitas yang menyehatkan justru memicu kondisi mematikan?

Untuk menjawabnya, mari kitakenali apa saja penyebab kematian mendadak pada pelari dan bagaimana cara menghindarinya.

Penyebab Kematian Mendadak pada Pelari

Kematian mendadak terjadi ketika fungsi vital seperti detak jantung dan pernapasan berhenti secara tiba-tiba.

Pada pelari, risikokematian mendadak dapat meningkat saat mengikuti aktivitas intens seperti lari marathon. Contohnya seperti insiden meninggalnya 2 peserta Siksorogo Lawu Ultra 2025 (7/12) lalu.

Berikutfaktor medis dan kondisi fisik yang dapat menjadi penyebab kematian mendadak saat berlari:

1. Henti Jantung Mendadak (Sudden Cardiac Arrest)

Henti jantung mendadak adalahpenyebab paling umum kematian mendadakpada pelari.Kondisi initerjadi ketika jantung berhenti berdetak akibat gangguan irama (aritmia), seperti ventricular fibrillation.

Saat jantung berhenti, suplai darah ke organ vital terhenti seketika. Jika tidak mendapatkan CPR atau defibrilasi dalam 3–5 menit, kondisi ini sering berakhir fatal.

2. Heat Stroke (Serangan Panas)

Pelari marathon rentan mengalami kenaikan suhu tubuh ekstrem hingga 40°C atau lebih, terutama di cuaca panas.

Gejala heat stroke meliputi pusing, kulit panas dan kering, kebingungan, dan pingsan. Jika tidak segera ditangani, maka dapat menyebabkan kerusakan organ dan kematian.

3. Dehidrasi Berat

Saat berlari lama, tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Jika tidak digantikan, pelari berisiko mengalami penurunan tekanan darah, gangguan detak jantung, kelelahan ekstrem, dan kolaps.

4. Hiponatremia

Hiponatremia adalah kondisi ketika kadar natrium (garam) dalam darah turun terlalu rendah, sehingga cairan dalam tubuh menjadi tidak seimbang.

Pada pelari, hiponatremia sering terjadi karena minum terlalu banyak air tanpa elektrolit, terutama saat marathon atau lari jarak jauh.

Akibatnya, pelari dapat merasakan gejala seperti mual, pusing, kejang, dan penurunan kesadaran. Pada kasus yang berat, hiponatremia dapat menyebabkan pembengkakan otak dan kematian.

5. Overexertion (Memaksakan Diri Berlebihan)

Beberapa pelari memaksa tubuh melebihi batas kemampuan, terutama saat lomba atau ingin mengejar catatan waktu tertentu. Padahal, tubuh yang tidak siap secara fisik bisa kolaps sewaktu-waktu.

Risiko meningkat jika pelari kurang tidur, sedang stres, mengalami infeksi atau badan tidak fit, dan minim latihan sebelum lomba.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Kematian Mendadak?

Walaupun pelari terlihat sehat, beberapa faktor dapat meningkatkan risiko:

  • Usia di atas 35 tahun
  • Memiliki riwayat penyakit jantung (disadari atau tidak)
  • Jarang latihan tetapi langsung ikut lomba
  • Obesitas
  • Merokok
  • Hipertensi atau kolesterol tinggi
  • Pola latihan yang tidak teratur

Cara Mencegah Kematian Mendadak Saat Berlari

Kabar baiknya, risiko ini dapat ditekan secara signifikan dengan langkah-langkah pencegahan berikut:

1. Lakukan Medical Check-Up Sebelum Ikut Lomba

Penting untuk menjalani pemeriksaan tekanan darah, EKG atau rekam jantung, dan tes kebugaran sebelum ikut lomba.

Jika Anda mengalami gejala yang tidak biasa, seperti nyeri dada atau jantung berdebar, maka segeralah periksakan ke dokter.

2. Latihan Bertahap dan Terprogram

Jangan langsung memaksakan diri ikut marathon tanpa persiapan.

Tips latihan aman:

  • Meningkatkan jarak secara bertahap
  • Latihan minimal 8–12 minggu sebelum lomba
  • Mengombinasikan lari, pelatihan kekuatan, dan interval

3. Atur Hidrasi dengan Tepat

Minum terlalu sedikit → dehidrasi

Minum terlalu banyak → hiponatremia

Cara aman:

  • Minum saat merasa haus
  • Gunakan minuman elektrolit
  • Hindari memaksakan minum berlebihan

4. Dengarkan Sinyal Tubuh

Segera hentikan lari jika mengalami:

  • Nyeri dada
  • Jantung berdebar tidak biasa
  • Pusing atau hampir pingsan
  • Napas pendek ekstrem
  • Kram parah
  • Meneruskan lari saat tubuh memberi sinyal bahaya sangat berisiko.

5. Jangan Lari Saat Sakit atau Kurang Tidur

Banyak pelari memaksakan diri lari walaupun sedang tidak fitkarena sudah terlanjur daftar dan merasasayang akan biayayang telah dibayar.

Padahal, kondisi tubuh yang lemah sangat memicu serangan jantung atau kolaps.

6. Sesuaikan Pace dengan Kebugaran

Tidak perlu memaksakan diri ikut ritme pelari lain. Setiap tubuh punya batas kemampuan berbeda.

Pelari bisa mengalami kematian mendadak bukan hanya karena kurang fit, tetapi juga karena gangguan jantung yang tidak terdeteksi, dehidrasi, heat stroke, atau memaksakan diri berlebihan.

Meski begitu, risiko ini bisa dicegah dengan persiapan yang baik, pemeriksaan kesehatan, pola latihan terukur, dan mendengarkan sinyal tubuh.

Lari adalah olahraga yang sangat menyehatkan selama dilakukan dengan aman. Pastikan Anda berlari sesuai kapasitas tubuh Anda, karena keselamatan tetap yang utama.

Baca Lebih Lanjut
Kata Pakar IPB, Kurang Paparan Sinar Matahari Bisa Tingkatkan Risiko Kematian
Detik
5 Fakta di Balik Gugurnya Dua Pelari Berpengalaman di Siksorogo Lawu Ultra 2025
Satrio Sarwo Trengginas
Kerja Seharian di Ruang Ber-AC Bisa Bikin Imun Turun, Ini Cara Cegahnya
Detik
Ketenaran Jadi Penyebab Kematian Dini pada Penyanyi? Begini Kata Studi
Detik
Dilema Pelari Rekreasional, Ingin 'Push the Limit' Tapi Kok Ngeri Jantung Kolaps
Detik
Pakar Ungkap Penyebab Hujan Ekstrem di Sumatera: Siklon Bergerak Tak Lazim
Detik
5 Makanan Enak yang Bisa Turunkan Kadar Asam Urat Tinggi secara Alami
Detik
Cara Cepat Hilangkan Bau Sangit di Dapur karena Panci Gosong
Konten Grid
Kasus Henti Jantung Bisa Terjadi Pada Saat Olahraga, Inikah Pemicunya?
Detik
Ayah Meghan Markle Dilarikan ke RS, Alami Penggumpalan Pembuluh Darah
Detik