Ringkasan Berita:
  • Muhammad Mustofa Tanro merintis bengkel meja biliar 'Biliard Tanro' di Putat Jaya (eks Dolly) sejak 2002 dan sukses melayani pemesan hingga luar Jawa.
  • Bisnisnya sempat vakum 7 tahun (mulai 2007) karena kebijakan penertiban perjudian.
  • Mustofa Tanro fokus pasar lokal dengan kualitas ekspor.
  • Ia berkomitmen membantu warga eks Dolly dengan menyediakan lapangan kerja di bengkelnya, namun menyayangkan mentalitas GenZ saat ini yang kurang daya juang dan ingin hasil instan.

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Bengkel produksi pembuatan meja biliar yang dirintis Muhammad Mustofa Tanro (53), barang kali satu satunya bisnis padat karya yang tak ada sangkut pautnya dengan kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly.

Bisnis tersebut sudah dirintis sejak 2002; ketika lokalisasi Dolly Surabaya masih pada masa kejayaannya.

Kerajinan 'Biliard Tanro' mendulang cuan berlimpah dibanjiri pemesan hingga luar Pulau Jawa.

Selama kurun waktu lima tahun merintis pada fase awal, industri kecil-kecilannya itu juga berhasil menyerap tenaga kerja dari pemuda-pemuda asli warga Putat Jaya atau para tetangganya sendiri sebanyak 15-an orang.

Bisnisnya itu sempat tumbang dan terpaksa tiarap selama tujuh tahun lamanya karena terdampak kebijakan Jenderal Sutanto Kapolri kala itu, pada tahun 2007, yang berkomitmen menumpas perjudian.

Apes, pada masa itu, permainan biliar bagi sekelompok masyarakat, ternyata masih berkelindan erat dengan praktik perjudian di tempat-tempat terselubung.

Akibatnya, billiar sempat diasosiasikan sebagai permainan haram, sehingga membuat para pebiliar, memilih bersembunyi untuk sekadar memainkannya.

Tak pelak, situasi tersebut membuat pelanggan pemesan meja billiar sirna dan aktivitas produksi bengkel milik Mustofa Tanro mandek total.

Namun, Mustofa Tanro ingin memulai kembali bisnis pembuatan meja biliar yang sempat vakum selama ini, demi menandaskan gejolak batin dalam benak diri.

Hingga akhirnya sang istri mau menerima keputusannya 'gilanya' itu, secara lapang dada dan mulai mengalirkan doa sebagai dukungan kepada sang kepala keluarga.

"Saya keluar, wah habis dimarahi, istri nolak, karena kerjaanku sudah stabil. Cuma enggak cocok. Alhamdulillah Tuhan kasih jalanku di sini," ujarnya saat ditemui TribunJatim.com di Gang Jalan Putat Jaya C Timur III, Surabaya, pada Sabtu (22/11/2025). 

Belajar Otodidak

Kemampuannya mengolah kayu untuk dijadikan meja biliar, murni ditempa secara autodidak.

Jauh sebelum bekerja sebagai karyawan buruh pabrik, ia pernah bekerja di beberapa tempat pengolahan kayu untuk pengerajin meja biliar di wilayah Surabaya.

Selama merintis pada fase kedua, setelah berhenti menjadi karyawan pabrik, Mustofa Tanro, awalnya menawarkan jasa perbaikan meja biliar di kafe dan tempat hiburan malam.

Ia berkeliling sendirian menaiki motor untuk menawarkan jasa tersebut di kafe, tempat hiburan dan semacamnya, dengan memberikan kartu nama kepada setiap orang yang ditemuinya.

Hingga akhirnya, perlahan-lahan, ia berusaha menawarkan meja biliar baru buatannya dengan kualitas terbaik, namun tetap dengan harga yang kompetitif.

Meja biliar kategori 7 feet dihargai kisaran Rp3,9 juta.

Kemudian, meja biliar kategori 8 feet dibandrol kisaran Rp6 juta, dan meja biliar kategori 9 feet dibandrol kisaran Rp12,5 juta.

Bahan bakunya juga dipastikan berkualitas tinggi yang diperoleh dari beberapa wilayah di Jatim, seperti bahan kayu mapex diperoleh dari Madura, sedangkan Batu Marmer sebagai permukaan mejanya diperoleh dari Tulungagung.

"Saya fokus pasar lokal aja, Indonesia, tapi kualitas saya kayak buatan luar. Seluruh Indonesia dari Sabang-merauke sudah ada yang beli. Papua, Pontianak, Makassar, Aceh sudah pernah semua," ungkapnya. 

Buka Kesempatan Warga Eks Dolly yang Ingin Bekerja 

Mustofa Tanro tidak main-main dengan komitmennya sejak turut membantu warga eks Dolly untuk mandiri dari segi ekonomi melalui lapangan pekerjaan di bengkel pembuatan meja biliar miliknya.

Ia selalu menyediakan tangan terbuka untuk semua anak muda di sekitar permukimannya yang mungkin kebingungan mencari pekerjaan.

Mereka yang serius bekerja dengannya bisa datang kapan pun ke bengkel tempatnya produksi.

"Sampai sekarang pun kita tetap tawarin dari Karang Taruna juga yang anak-anak sekarang ini," tegasnya.

Cara perekrutan lowongan pekerjaan yang diterapkannya ini adalah alternatif terakhir.

Karena, Mustofa Tanro mengungkapkan, pihaknya sudah pernah mengumpulkan seluruh anak muda melalui karang taruna Putat Jaya dan pengurus RT setempat untuk diberdayakan dalam pembuatan rack.

Rack merupakan sebuah kayu berbentuk segitiga yang difungsikan sebagai alat penata bola-bola biliar saat hendak dimainkan pertama kali.

Nantinya, para anak muda akan membuat rack dengan mengolah bahan kayu yang disediakannya.

Namun, sayang, ungkap Mustofa Tanro, mereka tak terlalu antusias.

"Ya itu tadi masalahnya. Kami kesusahan dari untuk menggerakkan itu. Soalnya cara berpikir itu tadi sudah beda. Mentalitasnya itu," katanya.

Komitmen Mustofa Tanro untuk menyediakan lapangan pekerjaan selebar-lebarnya pada warga eks Dolly, bukan isapan jempol belaka.

Karena, ia sudah pernah membuktikannya sejak tahun 2002 silam.

Pada fase awal bisnisnya mulai dirintis yakni 2002 hingga 2007. Jumlah karyawannya terdiri dari 15-an orang anak muda di sekitar rumah pada masa Gang Dolly masih kental dengan praktik prostitusinya.

Jumlah karyawan itu, lebih banyak ketimbang, pada beberapa tahun belakangan.

Karena, karyawannya cuma tujuh orang yang benar-benar secara pasti masih bertahan lama untuk bekerja di bengkelnya.

"Sebenarnya gini kalau aku untuk pribadi itu kayak biarpun di kampung, kadang-kadang kayak gitu tuh sebenarnya aku ingin kayak ada perubahan di dalam kampungku sendiri. Ini kan saya lahir di sini kan. Pengin kayak kampung ini berubah lebih baik," ungkapnya.

Hanya saja, yang menjadi permasalahan, Mustofa Tanro menyayangkan kondisi mentalitas para anak muda; GenZ pada masa kini, yang kurang memiliki daya juang dan kerja keras sebagai bukti tanggungjawab akan pekerjaan yang sedang diembannya.

"Tapi ya itu tadi aku ngomong anak sekarang ini kan susah kita minta kan instan langsung jadi langsung jadi. Dan minta bayaran cuannya juga banyak. Padahal Mesti sebelum kita minta saya selalu tanya berapa upahnya. Mentalitasnya ya agak beda ya. Enggak seperti anak muda zaman dulu pokoknya," pungkasnya. 

Baca Lebih Lanjut
Kisah Ibu Muda di Surabaya Sukses Berbisnis Skincare dari Rumah Sambil Urus Anak
BASRA (Berita Anak Surabaya)
Tembok sekolah di Palmerah roboh dan menimpa sepeda motor warga
Antaranews
Siap Bikin Dashboard yang Bikin Kerja Kamu 10x Lebih Efisien? Kuasai di Sini!
Detik
Pemkot Surabaya buka bursa kerja khusus disabilitas
Antaranews
5 Fakta Tembok Sekolah di Palmerah Roboh Timpa Motor-Tutup Akses Warga
Detik
Kesetaraan Kerja, Pemkot Surabaya Gelar Job Fair Khusus Penyandang Disabilitas
BASRA (Berita Anak Surabaya)
1.890 warga ikuti pelatihan kerja di Jakarta Pusat
Antaranews
Meja Balap Liar Jadi Penyebab Kecelakaan Beruntun di Jember, 2 Orang Tewas dan 2 Luka-luka
Khistian Tauqid
Polisi usut kasus tembok sekolah yang roboh di Palmerah
Antaranews
Ditinggal Kabur Temannya, Maling Motor Asal Bangkalan Jadi Bulan-bulanan Warga Kenjeran Surabaya
Ndaru Wijayanto