TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Sejak pukul lima pagi, dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) milik Yayasan Bina Bangsa di kawasan Gunungpati Semarang, sudah ramai oleh aktivitas puluhan ibu rumah tangga.

Mereka datang dengan pakaian biru muda untuk mempersiapkan menu makan bergizi gratis (MBG) di beberapa sekolah sekitar situ.

Menu yang disajikan dalam ompreng kali ini adalah olahan ayam menjadi naget, salad sayur, nasi, jeruk dan lauk tambahan kering tempe.

Di dapur moderen itu, ratusan kilogram bahan makanan diolah setiap hari menjadi ribuan porsi makanan bergizi untuk anak-anak sekolah.

Semua dilakukan dengan protokol kebersihan ketat dan sistem digital yang cermat.

Ketua Yayasan Bina Bangsa, Hadi Pranoto, menjelaskan bahwa dapur yang ada di Gunungpati ini menggunakan fasilitas yang lengkap.

Tembok dan plafon yang digunakan pada bangunan itupun menggunakan material yang sama dengan ruangan operasi di rumah sakit. 

Material itu terbuat dari panel dinding khusus seperti sandwich panel dan panel antimikroba yang memiliki sifat antibakteri, anti jamur, dan tahan api.

“Dapur kami bahkan menggunakan material setara ruang operasi rumah sakit tujuannya agar mudah untuk disterilkan,” kata Hadi saat ditemui di lokasi, Senin (28/10/2025).

Hadi menyebut dapur ini dirancang dengan sistem tertutup. 

Setiap bahan makanan yang datang tak langsung diolah, melainkan melalui proses pengecekan barcode terlebih dahulu. 

Sistem digital itu merekam data pemasok, berat, dan tanggal kedatangan bahan.

“Kalau bahan tidak sesuai standar, misal kualitas sayur menurun atau berat tidak sesuai, sistem langsung menolak. Jadi semua bahan yang masuk sudah tervalidasi,” ungkapnya.

Setelah bahan masuk nantinya semua akan dicuci bersih sebelum masuk ke gudang penyimpanan ataupun chiller kulkas berukuran besar.

Sebelum bahan diolah, dapur tersebut juga memiliki tim ahli gizi yang menyusun menu bergizi seimbang setiap minggunya. Sehingga tiap harinya menu yang diberikan bervariatif.

Menu disesuaikan dengan kebutuhan energi anak-anak usia sekolah, dengan memperhatikan kandungan protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

Pengolahan tak menggunakan wajan, namun menggunakan tilting pan, agar kematangan dari lauk yang disajikan lebih merata dan tidak over cook.

Sebelum disajikan kepada anak-anak, ahli gizi bertugas menjadi tester terlebih dahulu.

“Setiap hari menu berbeda. Misalnya hari ini nasi, ayam suwir, salad sayur dan buahnya semangka. Besok bisa ganti lagi seperti spaghetti, ayam bolognese, dan pisang. Prinsipnya anak-anak harus dapat gizi lengkap tanpa merasa bosan,” ujar Hadi.

Proses memasak di dapur dilakukan oleh ibu-ibu warga sekitar tentunya kehadiran dapur ini membuka peluang kerja bagi warga setempat.

Mereka bekerja dalam tim, masing-masing bertanggung jawab di bagian bahan sayuran, bahan hewani, masak, pengemasan dan pembersihan.

Setelah matang, makanan segera dikemas dalam ompreng yang sudah dicuci bersih dan didistribusikan ke sekolah-sekolah di wilayah Semarang radius keliling 5km dari jarak dapur.

“Semua dimasak fresh, kami ga berani kalau jarak masaknya dan distribusinya terlalu jauh. Jadi kami masak dengan fresh. Untuk menunjang itu kami gunakan fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Yayasan Bina Bangsa mengoperasikan lebih dari satu dapur bersertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) tiap dapur setidaknya memproduksi 4ribuan porsi MBG.

“Kalau kewelahan tentu tidak, semua sudah terukur dari gizi dan rasanya. Kecepatan kita cuman sekitar 1 detik untuk serving dan plating. Berarti kalau 1 detik saya cuma butuh 4.000 detik,” tuturnya.

“Berarti 1 jam saya dapat kurang lebih 3.600 porsi. Dan di sini juga kecepatan kerja teman-teman dan peralatan kita memang menunjang,” tuturnya.

Untuk menunjang kualitas dan konsistensi dari MBG yang diberikan kepada anak-anak, pihaknya juga membangun strategic office yang mengatur segala kebutuhan dapur SPPG yang dikelola Yayasan Bina Bangsa.

“Mulai dari urusan administrasi, kualitas pangan jumlah bahan pangan yang keluar ataupun masuk seperti urusan perkantoran semua diatur di Strategic Office dapur SPPG yang dikelola Yayasan Bina Bangsa dari yang di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur,” tuturnya.

Hadi menegaskan, transparansi dan audit berkala jadi prinsip utama dapur mereka. Menurut Hadi, hal ini sangat penting pasalnya dalam satu menu MBG yang tersaji anak-anak harus benar-benar dikelola dengan benar.

“Kami tidak boleh main-main karena ini menjaga harta negara untuk penerus bangsa,” tuturnya.

Di akhir hari, ketika ompreng kosong kembali ke dapur, para ibu di bagian pencucian menata ulang wadah satu per satu.

“Kalau anak-anak makan habis, kami ikut senang. Biasanya ada yang kasih surat tulisannya makanannya enak ada juga yang nulis request menu kaya ayam geprek. Artinya mereka suka dan kenyang,” tuturnya. (Rad)

Baca Lebih Lanjut
Jaga Higienitas, Dapur SPPG Polda Sumsel Lakukan Pengawasan Ketat
Urban Id
Lihat Kapolres Bangkalan Ikut Makan, Tak Ada Lagi Alasan Ratusan Siswa Ragukan Keamanan MBG
Deddy Humana
SPPG Asei Besar layani 35 sekolah wilayah pesisir Kabupaten Jayapura
Antaranews
PGN Batam pasok gas untuk 10 dapur Program Makan Bergizi Gratis
Antaranews
Penjelasan Yayasan SPPG Usai Ratusan Siswa di Sleman Diduga Alami Keracunan MBG
Pandangan Jogja
Disnaker Bangkalan: Pekerja dapur MBG harus terlindungi Jamsostek
Antaranews
SPPG Polda Kalteng salurkan MBG pertama bagi 1.000 penerima manfaat
Antaranews
Ternyata Bukan Keracunan Massal, Ini Fakta di Balik 13 Siswa SDN Kesenden yang Mual Usai Makan MBG
Dwi Yansetyo Nugroho
BGN paparkan tiga hal penting kepada SPPG dalam tata kelola MBG
Antaranews
560 SPPG sudah kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi
Antaranews