TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Langit Tuntang, Kabupaten Semarang pada Jumat (26/9/2025) sore tidak hanya menjadi saksi keindahan puluhan gantole yang melayang anggun.
Namun juga menyimpan cerita penuh tantangan dari balik layar Kejuaraan Terbuka Layang Gantung Telomoyo Cup IX 2025.
Satu di antaranya datang dari Danny Leowardy, pilot gantole asal Jakarta.
Dia membagikan kisahnya menembus angin yang tak bersahabat demi mengejar thermal yang hanya muncul di satu titik, yakni di atas Bukit Cinta.
Hari mulai condong ke barat ketika satu per satu gantole lepas landas dari puncak Gunung Gajah, Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang.
Ratusan pasang mata menengadah, mengamati para pilot meluncur ke udara, mengitari langit yang sebagian tertutup awan.
Namun di balik momentum yang terlihat memukau itu, ada kenyataan yang tak semudah terlihat.
“Cuaca kurang baik, angin dari belakang."
"Jadi ada satu dua yang take off itu angin masuk dari kiri dan nyolong-nyolong juga take off-nya."
"Kebetulan sudah hampir sore, jadi tidak ada thermal naik, cuma ada di atas Bukit Cinta dan dari beberapa task, kami cuma bisa lewat satu poin,” kata Danny.
Pria yang tergabung di kelas Sport dalam ajang itu menjelaskan bagaimana medan dan kondisi cuaca memberi tekanan ekstra kepada para pilot.
Sejak awal, Telomoyo Cup pada 2025 ini sudah menghadapi tantangan besar.
Puncak Telomoyo, Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru yang seharusnya menjadi titik lepas landas utama, tertutup kabut selama dua hari berturut-turut.
Cuaca tak kunjung membaik, jarak pandang terbatas, dan thermal, arus udara panas yang jadi sumber daya angkat utama bagi gantole, nyaris tak terbentuk.
Panitia pun mengambil keputusan sulit, yakni memindahkan lokasi take off ke Gunung Gajah, yang ketinggiannya lebih rendah, sekira 1.200–1.300 meter.
Sebuah kompromi yang tak mudah, terutama bagi para pilot berpengalaman seperti Danny.
“Kalau dari Telomoyo, kami sudah dapat ketinggian hampir 1.900 meter saat lepas landas, tapi dari Gunung Gajah, kami harus berusaha cari thermal dulu buat naik,” imbuh dia.
Hanya satu dari beberapa task atau rute terbang yang bisa diselesaikan oleh para peserta hari itu.
Meski langit tak sepenuhnya bersahabat, suasana di daratan jauh dari suram.
Warga sekitar berkumpul di pinggir sawah, halaman rumah, dan tepi jalan, menyambut tiap pilot yang melintasi rendah di atas kepala mereka dengan sorakan penuh antusias.
Stan UMKM menjajakan makanan lokal, dentuman musik dari panggung hiburan mengiringi riuh sorak penonton.
Kejuaraan itu tak hanya menjadi ajang adu keahlian, tapi juga pesta rakyat tahunan yang kian semarak dari tahun ke tahun.
“Dari segi venue, memang tidak banyak berubah dibanding tahun-tahun sebelumnya."
"Tapi yang saya rasakan, penonton dan UMKM sekarang jauh lebih ramai,” pungkas dia.
Sementara itu, Safety Officer Telomoyo Cup, Munandar, atau yang akrab disapa Bendol, turut mengonfirmasi bahwa tantangan utama dalam penyelenggaraan itu datang dari kondisi cuaca yang sulit diprediksi.
“Musim kemarau kami sebut ‘kemarau basah’, karena hujannya masih sering turun."
"Itu yang bikin pembentukan thermal jadi tidak konsisten,” kata Bendol.
Menurut dia, kabut yang menyelimuti Telomoyo di dua hari pertama membuat panitia harus berpikir cepat dan fleksibel.
Langkah pindah ke Gunung Gajah bukan keputusan mudah, tetapi jadi solusi terbaik saat itu.
“Setiap sore kami evaluasi dan lihat prakiraan cuaca terbaru."
"Malam ini juga kami rapat lagi, menentukan titik take off untuk besok,” pungkas dia. (*)