TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebuah karya seni instalasi berjudul The Octopus Queen kini berdiri di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, Bali.

Instalasi ini merupakan karya perupa I Ketut Putrayasa yang terbuat dari anyaman bambu.

Putrayasa yang diwawancarai Sabtu 13 September 2025, instalasi anyaman bambu ini memiliki tinggi 25 meter dengan kerangka logam.

"Dibuat berbentuk arca perempuan bermahkota 21 tentakel gurita," kata Putrayasa. 

Sementara itu, pelukis dan penulis Tatang B. Sp menilai, karya seni tersebut bukan hanya instalasi raksasa, melainkan refleksi sosial atas pergeseran nilai masyarakat modern. 

"The Octopus Queen hadir sebagai lambang berhala modernitas, cerminan ideologi pasar dan industri wisata yang membentuk wajah Bali hari ini," ujar Tatang.

Arca itu digambarkan memegang bunga teratai dengan ekspresi wajah tenang namun penuh kewaspadaan. 

Bagi Tatang, simbol tersebut mewakili dualitas, yakni pelindung sekaligus pengancam. 

“Gurita kapitalisme, dengan tentakel-tentakel yang membelit, menggambarkan bagaimana industri wisata menancapkan cengkeramannya. Ia bukan lagi patung sakral seperti masa lalu, melainkan berhala baru yang dipuja tanpa ritual, yakni pasar dan konsumsi,” tambahnya.

Instalasi bambu tersebut juga dikaitkan Tatang dengan fenomena fetisisme komoditas sebagaimana pernah diulas Karl Marx. 

Objek yang seharusnya biasa menjadi seolah sakral karena ditempatkan dalam pusaran pasar. 

Begitu pula The Octopus Queen, yang kini lebih banyak menjadi latar berswafoto dan promosi pariwisata.

Meski demikian, Tatang menekankan bahwa seni tetap memiliki peran penting. 

“Karya ini mengingatkan kita pada paradoks Bali, di satu sisi diasuh oleh industri wisata yang pragmatis, di sisi lain dijaga budaya dan spiritualitasnya. Seni semacam ini dibutuhkan untuk menjaga kemanusiaan agar tidak tersapu arus kapitalisme,” ujarnya.

Menghadap ke arah Pulau Bali, The Octopus Queen seakan menjadi penanda masa depan. 

“Kelak, perbukitan karang itu bisa saja menjelma taman gurita baru, octopus garden dari industri wisata. Pertanyaannya, apa yang akan terjadi setelah itu? Kita hanya bisa menunggu,” tutup Tatang. (*)

Baca Lebih Lanjut
ITDC aktifkan Festival Nusa Dua guna genjot pariwisata Bali
Antaranews
Banjir Bali Dipicu Masifnya Pembangunan Pariwisata dan Degradasi Lingkungan
Detik
Kenalkan KEK Sanur dan Spa Autentik Bali, Menpar Undang Korsel Invest di Wellness Tourism
Putu Dewi Adi Damayanthi
Tulola Jewelry Hadirkan Kawan Nusantara di Bali, Pamerkan Karya-Karya Terbarunya
Putu Dewi Adi Damayanthi
Studio Broadcasting dan Multimedia Canggih UBD Dukung Pertumbuhan Industri Kreatif di Palembang
Moch Krisna
5 Jalan Tol di Pulau Jawa Segera Beroperasi Tahun Depan, Mulai Akses Patimban hingga Tol Probowangi
Dwi Yansetyo Nugroho
Ikatan "kota kembar" beri dorongan kuat pembangunan hubungan RI-China
Antaranews
Mengenal Gelombang Ekuatorial Rossby, Pemicu Hujan Deras yang Bikin Banjir di Bali
Detik
Aitu Raih "AI Product Innovation Gold Award" di IFA 2025, Rombak Masa Depan Industri Garmen
Antaranews
Polda Sumbar: Bus pariwisata ALS kecelakaan di Tol Padang-Sicincin
Antaranews