SURYA.co.id - Tabiat asli Agam Rinjani, pengevakuasi jasad Juliana Marins dari jurang Gunung Rinjani, dibongkar oleh Fiersa Besari.
Fiersa mengaku bangga akan sosok Agam yang membuat harum nama Indonesia lantaran berani bertaruh nyawa demi mengevakuasi jasad Juliana Marins.
Seperti diketahui, Juliana Marins dinyatakan tewas setelah terjatuh ke dalam jurang Gunung Rinjani pada Sabtu (21/6/2025).
Jasad Juliana yang terseret hingga kedalaman 600 meter pun akhirnya dievakuasi oleh Agam Rinjani dan timnya.
Agam merupakan relawan sekaligus pemandu pendaki Gunung Rinjani.
Mendengar kabar Agam viral setelah mengevakuasi Juliana Marins, Fiersa mengurai tanggapan.
Diakui Fiersa, Agam memang dikenal sebagai sosok yang nekat dan punya rasa kemanusiaan yang tinggi.
"Respect untuk Bang Agam Rinjani. Dari dulu sudah terbukti ketangguhan, kenekatan, juga perikemanusiaannya. Tidak menyangka akan seviral ini. Tetap membumi di tingginya Rinjani," ungkap Fiersa Besari dikutip dari akun instagramnya pada Jumat (27/6/2025).
Bukan tanpa alasan Fiersa Besari bersuara soal sosok Agam Rinjani.
Ternyata Fiersa pernah merekam momen pertemuannya dengan Agam satu tahun lalu saat ia dan timnya mendaki Gunung Rinjani.
Kala itu Fiersa mengabadikan momen saat Agam tiba-tiba datang ke tendanya untuk memberikan pizza.
Padahal kala itu Fiersa dan rekan-rekannya sesama pendaki sudah pasrah hanya bisa makan nasi, sayur, dan ayam.
Diakui Agam, ia sengaja membeli pizza lalu mendaki Rinjani guna menemui rombongan Fiersa.
"Gila bang Agam datang-datang order pizza. Jalannya dengan siapa?" tanya Fiersa Besari dalam vlognya satu tahun lalu di Youtube.
"Sendiri," jawab Agam.
"Gokil!" teriak Fiersa dan rekan.
Lebih lanjut, Fiersa pun mengurai jejak Agam sebagai seorang petualang dan pendaki ulung.
Kata Fiersa, Agam sempat viral tiga tahun lalu yakni saat mengevakuasi jenazah turis asing.
"Bang Agam ini setiap manusia yang melihat dia selalu di beda tempat. Saya ketemu di Bima, ketemu di Makassar. Bang Agam ini emang petualang banget. Sempat viral waktu itu ketika evakuasi jenazah turis asing sampai masuk berapa media gitu," ungkap Fiersa.
Tak cuma rekam jejak, tingkah Agam juga membuat Fiersa dan sesama pendaki geleng-geleng kepala.
Sebab Agam bak tak mengenal rasa lelah tiap harinya.
"Kemarin baru balik dari?" tanya Fiersa.
"Tambora," jawab Agam.
"Belum istirahat langsung ke sini?" tanya Fiersa lagi.
"Baru nyelam di satonda (pulau di NTB)," akui Agam.
"Aduh," ujar rekan Fiersa sembari geleng kepala.
"Gokil," teriak Fiersa.
Sosok Fiersa Besari
Melansir dari Wikipedia, Fiersa Besari adalah seorang musisi, penulis, dan pemengaruh berkebangsaan Indonesia.
Fiersa pernah terlibat sebagai salah satu pendiri Komunitas Pecandu Buku.
Fiersa juga aktif sebagai personalia YouTube. Segmen konten yang terkenal di akun YouTube miliknya adalah "Atap Negeri".
Ia pernah menjadi pemain Bass Di bidang musik, Fiersa memulai kariernya sebagai vokalis grup musik indie.
Pada tahun 2009, Fiersa bersama seorang temannya yang bernama Hassan mulai rajin merekam dan menyimpan karya musik mereka.
Akhirnya, pada tahun 2012, ia memutuskan untuk menjual album buatannya.
Fiersa pernah mempunyai grup musik bernama Hellfairies. Selain itu, Fiersa bersama teman-temannya juga pernah membentuk grup musik bernama Eat Well Earl, yang disingkat E.W.E.
Setelah melalui proses berpikir yang cukup panjang, Fiersa memutuskan untuk serius bersolo karier.
Pada tahun 2012, Fiersa merilis album 11:11, yang pada tahun 2018 ia alih wahanakan ke dalam bentuk buku.[4]
Pada 2019, sebuah singel Fiersa yang berjudul "Pelukku untuk Pelikmu" didapuk menjadi lagu tema dari film karya Ernest Prakasa, yakni Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan.
Detik-detik Menegangkan Evakuasi Juliana Marins
Beginilah detik-detik menegangkan proses evakuasi Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang tewas jatuh di jurang Gunung Rinjani.
Hal ini diungkap oleh pahlawan yang berhasil mengevakuasi Juliana, Agam Rinjani.
Agam mengatakan momen menegangkan saat dirinya bersama tim harus bermalam di tebing curam.
“Medannya sangat berbahaya dan kami tim itu mempertaruhkan nyawa di bawah. Tidak tahu kondisi sebagaimana itu, gunung dan lain-lain.
Dan selama saya evakuasi di Rinjani ini, itu yang paling sulit yang pernah saya lalui,” ujar Agam, Sabtu (28/6/2025), melansir dari Kompas.com.
Menurut Agam, tim evakuasi terdiri dari tujuh orang yang terbagi menjadi dua kelompok.
Tiga orang berada di atas, sementara empat lainnya, termasuk dirinya berada di bawah tebing dengan kondisi serba terbatas.
“Iya, jadi waktu kami tidur berempat kan bertujuh, tiga di atas, kami berempat di bawah. Itu pasang anchor, pasang enar, ngebor batu, kemudian pasang kostel menggantung di tebing. Bisa sambil tidur, menunggu pagi untuk melakukan evakuasi, di pertengahan gunung,” katanya.
Situasi saat itu diperparah oleh hujan dan ancaman longsoran batu.
Agam menyebut risiko hipotermia menjadi ancaman serius bagi tim evakuasi yang harus tetap berjaga di ketinggian dan suhu dingin ekstrem.
“Karena kita tidur, batu di mana-mana jatuh. Kalau tidak tahu, apalagi kalau hujan malam, ya selesai kita, pasti diserang hipotermia,” tambahnya.
Agam berharap, ke depannya untuk tidak hanya berfokus pada penanggulangan insiden, tetapi juga pada pencegahan jangka panjang.
“Seperti tadi yang kita diskusikan, harapannya, ya, bagaimana meningkatkan lagi. Bagaimana mengurangi jumlah tingkat kecelakaan di gunung-gunung," ujarnya.