TRIBUNNEWS.COM - Dua pelari pria didiskualifikasi dari lomba bergengsi Two Oceans Marathon setelah terbukti berkompetisi di kategori putri dan bahkan finis di posisi 10 besar.

Peristiwa ini terjadi dalam ajang yang digelar di Cape Town, Afrika Selatan pada 12 April, yang diikuti lebih dari 16.000 peserta dan dikenal sebagai salah satu maraton paling ikonik di Afrika Selatan.

Al Jazeera melaporkan, kedua pelari tersebut, Luke Jacobs dan Nic Bradfield, finis di posisi ketujuh dan kesepuluh dalam kategori setengah maraton putri sebelum akhirnya didiskualifikasi.

Modus Tukar Nomor Peserta Terungkap

Kecurangan ini dilakukan dengan cara menukar nomor dada atau bib, yakni identitas resmi peserta lomba yang digunakan untuk pencatatan waktu dan verifikasi.

Jacobs diketahui menggunakan nomor milik Larissa Parekh, sementara Bradfield menggunakan nomor milik Tegan Garvey.

Associated Press melaporkan bahwa praktik ini awalnya tidak terdeteksi hingga seorang anggota dewan maraton menemukan kejanggalan dari unggahan foto di media sosial.

Dalam foto tersebut, Jacobs terlihat mengenakan nomor dengan nama “Larissa”, yang kemudian memicu penyelidikan lebih lanjut oleh panitia.

Teknologi dan Data Ungkap Kecurangan

Selain bukti visual, data dari chip elektronik yang tertanam dalam nomor peserta turut mengungkap ketidaksesuaian hasil lomba.

Petugas mencatat hanya 10 pelari wanita yang melintasi garis finis, namun data menunjukkan adanya dua peserta lain yang juga mencatat waktu finis tanpa terpantau secara langsung.

Perbedaan ini menjadi kunci terungkapnya fakta bahwa dua pria telah berlari di kategori putri, menggantikan peserta perempuan yang terdaftar.

Akibatnya, dua pelari wanita yang sebelumnya berada di luar 10 besar akhirnya diakui kembali sebagai finisher sah.

Baca juga: Menpora Dukung Malang Half Marathon 2026, Dorong Tren Lari dan Sport Tourism

Ancaman Sanksi dan Larangan Bertanding

Anggota dewan maraton, Stuart Mann, menyatakan bahwa keempat individu yang terlibat—dua pelari pria dan dua wanita—akan menghadapi proses disiplin.

Mereka berpotensi menerima larangan hingga dua tahun untuk mengikuti ajang tersebut.

Mann menegaskan bahwa praktik pertukaran nomor peserta bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga berbahaya.

“Hal ini tidak hanya dianggap tidak etis, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan dan medis jika terjadi keadaan darurat,” ujarnya, merujuk pada kemungkinan kesalahan penanganan medis akibat identitas yang tidak sesuai.

Alasan di Balik Kecurangan

Dalam pernyataan tertulisnya, Jacobs mengakui kesalahan yang dilakukan.

“Saya melakukan kesalahan dalam pengambilan keputusan dan tidak mempertimbangkan konsekuensinya. Seharusnya saya tidak ikut serta,” katanya.

Sementara itu, Garvey mengungkapkan bahwa ia menyerahkan nomor pesertanya karena mengalami cedera pinggul sehari sebelum lomba.

“Pinggul saya benar-benar bermasalah, bahkan untuk berjalan. Saya merasa tidak enak membatalkan pendaftaran, jadi teman saya berlari menggantikan saya,” ujarnya.

Namun, alasan tersebut tidak mengubah fakta bahwa tindakan tersebut melanggar aturan kompetisi.

Dampak Lebih Luas dalam Dunia Lari

Panitia menyebut praktik pertukaran nomor peserta semakin sering terjadi dalam ajang maraton, baik karena alasan cedera maupun untuk mendapatkan catatan waktu yang lebih baik demi kualifikasi lomba lain.

Baca juga: Tuntaskan Tokyo Marathon 2026 di Garis Finis, Danar Guritno Catatkan Waktu 3 Jam 12 Menit

Namun, kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan manipulasi kategori gender dalam kompetisi resmi.

Selain berdampak pada integritas lomba, tindakan tersebut juga merugikan atlet lain yang berkompetisi secara jujur dan berpotensi mengubah hasil akhir secara tidak adil.

Kasus ini kini menjadi perhatian luas dalam komunitas olahraga, sekaligus mempertegas pentingnya pengawasan ketat dalam ajang maraton berskala besar.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.